
Gorontalo, 26 Okrober 2026 – Kondisi ekologis Danau Limboto menjadi perhatian dalam penelitian berjudul “Struktur Komunitas Fitoplankton di Danau Limboto, Gorontalo” yang ditulis oleh Riska Puluhulawa dan Mulis. Penelitian ini mengidentifikasi struktur komunitas fitoplankton sebagai bioindikator untuk menggambarkan kondisi ekologis terkini danau yang menghadapi tekanan aktivitas manusia. Aktivitas antropogenik di sekitar Danau Limboto, termasuk potensi masuknya limbah domestik dan pertanian, dapat memengaruhi kualitas perairan serta keseimbangan ekosistem. Melalui pengamatan komunitas fitoplankton, penelitian ini memberikan gambaran mengenai kelompok organisme mikroskopis yang hidup di perairan dan kaitannya dengan kondisi lingkungan.
Pengambilan sampel air dilakukan menggunakan metode purposive sampling melalui penyaringan horizontal dengan plankton net pada satu stasiun pengamatan, yakni koordinat 0,597094 LU dan 123,005491 BT. Sampel kemudian diamati menggunakan mikroskop digital dengan perbesaran 100 kali dan dihitung menggunakan Sedgwick-Rafter Counting Chamber. Hasil pengamatan terhadap 120 kotak grid menunjukkan adanya 43 genus fitoplankton dari tiga kelas, dengan total kelimpahan terhitung sebanyak 111 individu. Temuan tersebut memperlihatkan keberadaan kelompok fitoplankton dengan komposisi yang berbeda, baik dari segi kekayaan genus maupun jumlah individu. Kelas Bacillariophyceae atau diatom memiliki kekayaan taksa tertinggi, dengan 16 genus. Genus Aulacoseira menjadi kelompok dominan dalam kelas tersebut. Diatom merupakan kelompok fitoplankton yang memiliki peran penting dalam ekosistem perairan, terutama sebagai bagian dari dasar rantai makanan.
Meskipun Bacillariophyceae memiliki kekayaan genus tertinggi, jumlah individu terbesar dalam sampel berasal dari kelas Cyanophyceae atau alga biru-hijau. Kelompok ini mencapai 42 individu atau sekitar 38 persen dari total individu yang teramati. Genus Oscillatoria dan Lyngbya disebut sebagai kelompok yang dominan dalam kelas alga biru-hijau. Keberadaan kelompok tersebut menjadi perhatian karena beberapa jenis sianobakteri dapat berkembang pesat pada kondisi perairan yang mendukung, termasuk ketika terjadi pengayaan unsur hara atau eutrofikasi.
Berdasarkan hasil dan interpretasi peneliti, dominasi alga biru-hijau mengindikasikan adanya potensi gangguan keseimbangan ekologis dan risiko berkembangnya Harmful Algal Blooms (HABs) atau ledakan alga berbahaya. Namun, kepastian tingkat eutrofikasi dan risiko HABs tetap memerlukan pengukuran kualitas air, identifikasi spesies secara lebih rinci, serta pemantauan pada lokasi dan waktu yang lebih luas.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa struktur komunitas fitoplankton dapat digunakan sebagai salah satu komponen pemantauan kondisi ekosistem perairan. Perubahan komposisi dan kelimpahan fitoplankton dapat membantu menunjukkan adanya perubahan lingkungan yang perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian lanjutan disarankan untuk mencakup pengukuran volume air yang lebih presisi, sehingga kelimpahan absolut fitoplankton dapat dihitung secara lebih akurat. Pengamatan di beberapa stasiun dan pada waktu yang berbeda juga penting untuk memperoleh gambaran yang lebih representatif mengenai kondisi Danau Limboto.
Selain itu, pengukuran parameter fisika-kimia perairan, seperti suhu, pH, oksigen terlarut, serta konsentrasi nutrien, dapat memperkuat analisis hubungan antara komunitas fitoplankton dan kualitas lingkungan. Identifikasi sianobakteri hingga tingkat spesies juga diperlukan untuk menilai potensi risiko HABs secara lebih spesifik. Temuan ini menjadi pengingat pentingnya pemantauan dan pengelolaan Danau Limboto secara berkelanjutan. Upaya pengendalian sumber pencemar dan pengayaan unsur hara perlu didukung oleh data ilmiah yang memadai agar kebijakan pengelolaan danau dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Agenda Akreditasi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mempersiapkan, memastikan, dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan standar akreditasi yang berlaku. Kegiatan ini mencakup evaluasi dokumen, pemenuhan data dan eviden, penataan administrasi akademik, serta koordinasi seluruh sivitas akademika untuk mendukung proses asesmen akreditasi.
Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo turut berpartisipasi dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 yang berlangsung di Bali.
Kehadiran perwakilan dosen FKTP UNG menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan, jejaring akademik, serta pertukaran gagasan dalam mendukung transformasi dan pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.