
Gorontalo, 06 Oktober 2026 - Upaya pemanfaatan hasil samping pengolahan perikanan terus dikembangkan oleh sivitas akademika Universitas Negeri Gorontalo. Tiga peneliti dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Universitas Negeri Gorontalo, yaitu Milya H. Entengo, Rahim Husain, dan Faiza A. Dali, melakukan penelitian mengenai pemanfaatan tulang ikan bandeng sebagai bahan baku tepung tulang. Penelitian tersebut berjudul "Variasi Lama Perebusan pada Proses Pembuatan Tepung Tulang Ikan Bandeng (Chanos chanos) terhadap Karakteristik Sensori dan Fisik" dan telah dipublikasikan dalam Arborescent Journal, Vol. 3 No. 3 Tahun 2026, halaman 108-114, serta dipublikasikan pada 9 September 2026.
Penelitian ini berangkat dari persoalan pemanfaatan tulang ikan bandeng yang selama ini masih berpotensi menjadi limbah dari aktivitas pengolahan hasil perikanan. Padahal, tulang ikan mengandung mineral, terutama kalsium dan fosfor, sehingga berpotensi dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk sebagai bahan baku tepung dan bahan fortifikasi pangan.
Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua perlakuan lama perebusan, yaitu 1 jam (F1)dan 1,5 jam (F2), masing-masing dengan dua kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi karakteristik sensori berupa kenampakan, aroma dan tekstur, serta karakteristik fisik berupa densitas kamba, derajat putih dan tingkat kecerahan atau lightness (L*). Proses penelitian dilaksanakan pada November 2025 hingga Juni 2026 di Laboratorium Inovasi Produk serta Laboratorium Bioteknologi dan Karakteristik Biota Perairan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan Universitas Negeri Gorontalo. Bahan utama berupa tulang ikan bandeng diperoleh dari PT Kimci Jaya Bersaudara, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.
Dalam proses pengolahan, tulang ikan bandeng terlebih dahulu dicuci, kemudian direbus pada suhu 100 derajat Celsius selama 1 jam atau 1,5 jam. Setelah itu, tulang diproses menggunakan autoklaf pada suhu 121 derajat Celsius selama 45 menit, dikeringkan pada suhu 55 derajat Celsius selama 12 jam, dihaluskan, dan diayak menggunakan ayakan 80 mesh untuk menghasilkan tepung tulang yang homogen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perebusan selama 1 jam (F1) memberikan karakteristik sensori yang lebih baik dibandingkan perebusan selama 1,5 jam. Pada parameter kenampakan, F1 memperoleh skor 5,00 ± 0,00, sedangkan F2 sebesar 3,92 ± 0,91. Untuk aroma, F1 memperoleh 4,64 ± 0,70, sementara F2 sebesar 3,72 ± 1,14. Sementara itu, parameter tekstur menunjukkan skor 4,80 ± 0,50 pada F1 dan 3,44 ± 1,04 pada F2. Ketiga parameter tersebut menunjukkan perbedaan nyata secara statistik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perebusan selama 1 jam menghasilkan tepung dengan penampilan yang lebih bersih dan homogen, aroma yang lebih disukai panelis, serta tekstur yang lebih halus dan tidak mudah menggumpal. Pada karakteristik fisik, perlakuan F1 juga menghasilkan densitas kamba 0,95 ± 0,03 g/mL, lebih tinggi dibandingkan F2 yang mencapai 0,79 ± 0,02 g/mL. Perbedaan densitas kamba tersebut dinyatakan nyata secara statistik. Sementara itu, derajat putih dan tingkat kecerahan tidak menunjukkan perbedaan nyata antara kedua perlakuan.
Mendukung Pemanfaatan Hasil Samping PerikananTemuan penelitian menunjukkan bahwa lama perebusan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menghasilkan tepung tulang ikan bandeng dengan karakteristik yang baik. Berdasarkan hasil penelitian, perebusan selama 1 jam dinilai lebih sesuai dibandingkan 1,5 jam untuk menghasilkan tepung tulang ikan bandeng dengan mutu fisik dan sensori yang lebih baik.
Pemanfaatan tulang ikan menjadi tepung juga membuka peluang pengembangan produk berbasis hasil samping perikanan. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus mengurangi potensi limbah dari industri pengolahan perikanan. Penelitian ini telah dipublikasikan secara daring di Arborescent Journal dan tercatat dengan DOI 10.56630/arj.v3i3.1703.
Agenda Akreditasi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mempersiapkan, memastikan, dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan standar akreditasi yang berlaku. Kegiatan ini mencakup evaluasi dokumen, pemenuhan data dan eviden, penataan administrasi akademik, serta koordinasi seluruh sivitas akademika untuk mendukung proses asesmen akreditasi.
Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo turut berpartisipasi dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 yang berlangsung di Bali.
Kehadiran perwakilan dosen FKTP UNG menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan, jejaring akademik, serta pertukaran gagasan dalam mendukung transformasi dan pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.