
Gorontalo, 29 September 2026 — Penelitian yang melibatkan dosen dan peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap bahwa lama pengeringan berpengaruh signifikan terhadap karakteristik mutu ikan petek (Leiognathus equulus). Penelitian tersebut dilakukan untuk menganalisis pengaruh penggunaan solar dryer termodifikasi dengan waktu pengeringan yang berbeda terhadap mutu fisikokimia, mikrobiologi, dan organoleptik ikan petek. Penelitian berjudul “Quality Characteristics of Petek Fish (Leiognathus Equulus) Which Were Dried in A Modified Solar Dryer with Different Drying Times” ini ditulis oleh Imalda Tumulo, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Undergraduate Program, Faculty of Marine Science and Fisheries Technology, Gorontalo State University. Artikel tersebut diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah PLATAX dan tersedia pada Volume 14 No. 2 Tahun 2026, halaman 393–412.
Dalam penelitian ini, ikan petek segar yang diperoleh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kabupaten Gorontalo Utara dikeringkan menggunakan solar dryer termodifikasi dengan lima perlakuan, yaitu 0 jam atau tanpa pengeringan, 6 jam, 8 jam, 10 jam, dan 12 jam. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, protein, Total Plate Count (TPC), serta karakteristik organoleptik berupa kenampakan, rasa, aroma, dan tekstur. Pengujian dilakukan dengan pendekatan eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisis kimia dan mikrobiologi menggunakan ANOVA, sedangkan data organoleptik dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis. Penentuan perlakuan terpilih dilakukan dengan metode pembobotan De Garmo. Penelitian juga melibatkan 25 panelisuntuk pengujian organoleptik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengeringan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap parameter mutu yang diuji. Semakin lama proses pengeringan, kadar air ikan petek semakin menurun. Kisaran kadar air yang diperoleh berada pada 35,82–78,04 persen. Berdasarkan analisis De Garmo, perlakuan pengeringan selama 12 jam menghasilkan nilai produktivitas tertinggi, yaitu 0,56, sehingga ditetapkan sebagai perlakuan terpilih. Perlakuan ini juga mendapatkan penilaian yang baik dari panelis pada aspek kenampakan, rasa, aroma, dan tekstur. Pada perlakuan 12 jam, penelitian mencatat kadar air 35,82%, kadar abu 0,69%, kadar lemak 9,35%, kadar protein 23,35%, serta TPC 3,65 log cfu/g. Hasil tersebut menjadi dasar peneliti dalam menetapkan waktu pengeringan 12 jam sebagai perlakuan terpilih.
Dari sisi penerimaan panelis, ikan petek yang dikeringkan selama 12 jam menjadi perlakuan yang paling banyak dipilih. Pada aspek kenampakan, ikan terlihat lebih utuh, bersih, bercahaya, dan telah mengering dengan baik. Pada aspek rasa, perlakuan 12 jam memperoleh kategori “suka”, sedangkan pengeringan 6–10 jam berada pada tingkat agak disukai. Peneliti mengaitkan perubahan cita rasa tersebut dengan perubahan komponen selama proses pengeringan. Sementara itu, nilai aroma meningkat dari 1,56 pada 6 jam menjadi 3,12 pada 12 jam, dan lama pengeringan memberikan pengaruh nyata terhadap aroma berdasarkan uji Kruskal-Wallis. Pada tekstur, perlakuan 12 jam juga menjadi pilihan terbanyak panelis karena ikan dinilai telah memiliki tingkat kekeringan yang cukup.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan solar dryer termodifikasi dapat menjadi salah satu alternatif teknologi pengeringan ikan. Dibandingkan pengeringan tradisional, alat tersebut memungkinkan proses pengeringan berlangsung dengan kondisi suhu yang lebih terkontrol dan menghasilkan produk yang lebih bersih serta higienis. Temuan ini memberikan informasi penting bagi pengembangan pengolahan ikan petek, khususnya dalam menentukan lama pengeringan yang dapat menghasilkan karakteristik mutu yang lebih baik. Peneliti juga merekomendasikan adanya penelitian lanjutan mengenai pengolahan ikan petek kering yang telah memiliki karakteristik mutu tersebut.
Sumber: Tumulo, I., Naiu, A.S., & Mile, L. (2026). Quality Characteristics of Petek Fish (Leiognathus Equulus) Which Were Dried in A Modified Solar Dryer with Different Drying Times. Jurnal Ilmiah PLATAX, 14(2), 393–412. DOI: 10.35800/jip.v14i2.63640.
Agenda Akreditasi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mempersiapkan, memastikan, dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan standar akreditasi yang berlaku. Kegiatan ini mencakup evaluasi dokumen, pemenuhan data dan eviden, penataan administrasi akademik, serta koordinasi seluruh sivitas akademika untuk mendukung proses asesmen akreditasi.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG dalam waktu dekat akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 05 - 07 September 2016.