
Gorontalo, 29 September 2029 — Pemanfaatan limbah hasil perikanan kembali menunjukkan peluang inovasi. Riset yang dilakukan Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Faculty of Maritime Affairs and Fisheries Technology, Gorontalo State University mengembangkan spray hand sanitizer berbasis kitosan tulang sotong (Sepia sp.) sebagai agen antibakteri terhadap Escherichia coli. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 14 Nomor 1 Tahun 2025, halaman 37–52.
Penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan produk kebersihan tangan yang praktis sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan alami. Dalam penelitian tersebut, tulang sotong diproses melalui tiga tahapan utama, yakni deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi untuk menghasilkan kitosan yang kemudian digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi spray hand sanitizer.
Hasil karakterisasi menunjukkan kitosan yang diperoleh memiliki rendemen 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, dan derajat deasetilasi 74,78 persen. Penelitian mencatat bahwa kadar air dan kadar abu tersebut berada di bawah batas yang dirujuk dalam SNI 7949:2013, sedangkan derajat deasetilasi telah melampaui batas minimum 70 persen. Kitosan tersebut kemudian diformulasikan dalam tiga konsentrasi, yaitu 5 persen (P1), 10 persen (P2), dan 15 persen (P3). Ketiga formula diuji berdasarkan pH, viskositas, serta aktivitas antibakterinya terhadap E. coli.
Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas antibakteri seiring meningkatnya konsentrasi kitosan. Zona hambat terhadap E. coli tercatat sebesar 9,07 ± 1,33 mm pada P1, 22,03 ± 7,40 mm pada P2, dan 25,43 ± 3,96 mm pada P3. Analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarformula (p<0,05). Dalam interpretasi penelitian, P1 berada pada kategori lemah hingga sedang, P2 tergolong kuat, sedangkan P3 tergolong sangat kuat berdasarkan zona hambat yang dihasilkan. Namun, peningkatan konsentrasi juga diikuti oleh peningkatan viskositas.
Formula 10 Persen Menjadi Titik Kompromi
Menariknya, konsentrasi tertinggi tidak otomatis menghasilkan karakteristik spray yang paling sesuai. Formula P3 dengan kitosan 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki viskositas 4.517 ± 680 cP, sehingga berpotensi menurunkan kenyamanan dan konsistensi penyemprotan. Sementara itu, formula P1 memiliki viskositas 750 ± 250 cP dan memberikan kenyamanan semprot yang lebih baik, tetapi aktivitas antibakterinya masih rendah. Formula P2 dengan konsentrasi kitosan 10 persen menghasilkan aktivitas antibakteri kuat dengan viskositas 2.917 ± 1.010 cP, sehingga oleh peneliti dipandang sebagai titik kompromi antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fungsional formulasi. Meski demikian, terdapat catatan penting pada aspek pH. Formula 10 persen memiliki pH 9,02 ± 0,17, sementara penelitian menggunakan rentang ideal kulit sekitar 4,5–6,5. Karena itu, peneliti merekomendasikan optimasi sistem penyangga sebelum pengembangan lebih lanjut.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tulang sotong berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber kitosan non-krustasea untuk pengembangan produk kebersihan tangan. Pemanfaatan tersebut sekaligus memberikan alternatif penggunaan hasil samping perikanan yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Namun, penelitian menekankan bahwa pengembangan produk masih membutuhkan tahapan lanjutan, terutama optimasi pH, pengaturan sifat reologi, evaluasi ukuran droplet dan pola semprotan, pengujian iritasi kulit, pemantauan kenyamanan penggunaan berulang, serta uji stabilitas selama penyimpanan. Dengan demikian, riset ini tidak hanya memperlihatkan aktivitas antibakteri kitosan tulang sotong terhadap Escherichia coli, tetapi juga memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan produk higienis berbasis bahan hasil samping perikanan yang lebih bernilai tambah dan berpotensi ramah lingkungan.
Sumber: Rasyid, F., Naiu, A.S., & Mile, L. (2025). Formulation and Characterization of Spray Hand Sanitizer from Cuttlefish Bone Chitosan (Sepia sp.) as an Antibacterial Agent. Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, 14(1), 37–52. DOI: 10.21776/ub.industria.2025.014.01.3.
Agenda Akreditasi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mempersiapkan, memastikan, dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan standar akreditasi yang berlaku. Kegiatan ini mencakup evaluasi dokumen, pemenuhan data dan eviden, penataan administrasi akademik, serta koordinasi seluruh sivitas akademika untuk mendukung proses asesmen akreditasi.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG dalam waktu dekat akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 05 - 07 September 2016.