
GORONTALO – Kajian mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir kembali dilakukan oleh sivitas akademika Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian berjudul “Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Nelayan di Desa Motongkad Selatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur” mengungkap kondisi kesejahteraan masyarakat nelayan di wilayah tersebut yang secara keseluruhan berada pada kategori sedang.
Penelitian ini ditulis oleh Nilmawati Daeng Mangaw, Abdul Hafidz Olii, dan Cahniar Djamil dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan, Universitas Negeri Gorontalo. Artikel tersebut diterbitkan dalam Tarjih: Fisheries and Aquatic Studies, Volume 6 Nomor 1, Juni 2026, pada halaman 1–6.
Pendapatan Nelayan Masih Menjadi TantanganPenelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Juni 2025 di Desa Motongkad Selatan, Kecamatan Motongkad, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 93 persen responden memiliki pendapatan kurang dari Rp2 juta per bulan, sementara 7 persen berada pada kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan. Penelitian juga menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Kondisi tersebut berkaitan dengan ketergantungan masyarakat terhadap hasil laut, keterbatasan pekerjaan sampingan, teknologi alat tangkap yang masih sederhana, serta kondisi laut dan cuaca yang sulit diprediksi.
Aspek pendidikan juga menjadi perhatian. Dari responden yang diteliti, 73,33 persen memiliki tingkat pendidikan SD, 6,67 persen SMP, 13,33 persen SMA, dan 6,67 persen tidak tamat sekolah. Meski demikian, penelitian mencatat mulai tumbuhnya kesadaran sebagian kepala keluarga untuk menyekolahkan anak agar memiliki kehidupan yang lebih baik.
Kondisi Rumah dan Fasilitas Kesehatan Relatif Lebih BaikBerbeda dengan indikator pendapatan, pengeluaran, dan pendidikan yang memperoleh skor rendah, beberapa indikator lainnya menunjukkan kondisi yang lebih baik. Sebanyak 40 persen responden memiliki rumah permanen, 33 persen semi permanen, dan 27 persen nonpermanen. Selain itu, sebanyak 80 persen responden telah memiliki rumah sendiri, sedangkan sisanya masih tinggal di rumah milik orang tua atau saudara.
Pada aspek fasilitas kesehatan, lima indikator yang dikaji—kesehatan anggota keluarga, penanganan berobat, biaya berobat, keterjangkauan harga obat, serta akses konsultasi keluarga berencana—memperoleh total skor 10 dan dikategorikan cukup.
Jika seluruh indikator digabungkan, penelitian memperoleh skor total 12 yang menempatkan tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan Desa Motongkad Selatan pada kategori sedang. Dari responden yang dianalisis dalam bagian tingkat kesejahteraan, 26,67 persen berada pada kategori rendah dan 73,33 persen berada pada kategori sedang.
Teknologi, SDM dan Cuaca Menjadi Faktor PentingPenelitian mengidentifikasi tiga faktor utama yang menghambat peningkatan kesejahteraan nelayan, yaitu kualitas sumber daya manusia yang masih rendah, metode penangkapan ikan yang masih tradisional, serta kondisi iklim dan cuaca. Sebagian nelayan masih menggunakan perahu, pancing ulur, dan jaring tangkap ikan secara manual sehingga hasil penangkapan dapat menjadi kurang maksimal, khususnya ketika menghadapi kondisi cuaca buruk.
Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor pendukung, antara lain bantuan pemerintah berupa mesin untuk perahu nelayan, sosialisasi, pelatihan penguasaan teknologi penangkapan ikan, serta peningkatan kemampuan berwirausaha. Penelitian merekomendasikan penguatan bantuan modal, pendidikan dan pelatihan keterampilan, pengembangan pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan keluarga, serta penyuluhan secara berkelanjutan.
Kontribusi FKTP UNG dalam Kajian Masyarakat PesisirPenelitian ini menunjukkan pentingnya kajian sosial ekonomi dalam memahami persoalan masyarakat pesisir secara lebih menyeluruh. Bagi FKTP UNG, penelitian mengenai kesejahteraan nelayan dapat menjadi bagian dari kontribusi akademik dalam memahami hubungan antara pemanfaatan sumber daya perikanan, kondisi sosial ekonomi masyarakat, teknologi penangkapan, pendidikan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.
Kajian semacam ini juga memperlihatkan bahwa peningkatan kesejahteraan nelayan tidak hanya berkaitan dengan hasil tangkapan, tetapi membutuhkan pendekatan yang lebih luas melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, diversifikasi usaha, pendidikan, serta dukungan kebijakan dan program pemberdayaan masyarakat.
Sumber: Tarjih: Fisheries and Aquatic Studies, Vol. 6 No. 1, Juni 2026, artikel “Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Nelayan di Desa Motongkad Selatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur”, Nilmawati Daeng Mangaw, Abdul Hafidz Olii, dan Cahniar Djamil.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG dalam waktu dekat akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 05 - 07 September 2016.
Pengabdian Pada Masyarakat Oleh Civitas FPIK UNG akan dilaksanakan di Kabupaten Buol-Sulawesi Tengah. Pengabdian ini sebagai bentuk upaya penjajakan kerja sama dengan antara FPIK UNG dengan Pemerintah Kabupaten Buol Sulawesi Tengah