
Gorontalo, 20 September 2026 — Potensi sumber daya mangrove di kawasan pesisir Gorontalo Utara kembali menjadi perhatian melalui penelitian yang mengkaji pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan baku edible film atau kemasan pangan yang dapat dikonsumsi dan lebih ramah lingkungan.
Penelitian berjudul “Karakteristik Pati Buah Mangrove Bruguiera gymnorrhiza dan Sonneratia caseolarisBerpotensi sebagai Edible Film dari Kawasan Perairan Gorontalo Utara” tersebut diterbitkan dalam Jambura Fish Processing Journal (JFPJ), Vol. 8 No. 2 Tahun 2026, halaman 113–122.
Penelitian ini dilakukan oleh Frezky Arismunandar Pakaya, Rita Marsuci Harmain, dan Rahim Husain. Ketiganya berasal dari lingkungan Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dengan Frezky Arismunandar Pakaya dan Rahim Husain dari Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, sementara Rita Marsuci Harmain berasal dari Jurusan Ilmu Kelautan.
Penelitian tersebut berangkat dari potensi buah mangrove Bruguiera gymnorrhiza atau buah lindur dan Sonneratia caseolaris atau buah pedada yang banyak ditemukan di kawasan mangrove Teluk Tomini. Kedua jenis buah tersebut diketahui memiliki kandungan karbohidrat sehingga berpeluang dikembangkan menjadi tepung atau pati yang bernilai ekonomi.
Para peneliti menjelaskan bahwa edible film merupakan lapisan tipis berbahan yang dapat dikonsumsi dan digunakan sebagai pelapis permukaan makanan. Pati menjadi salah satu bahan yang berpotensi digunakan karena termasuk hidrokoloid dan dapat dikembangkan sebagai bahan pembentuk film yang bersifat biodegradable. Melalui penelitian ini, karakteristik kimia pati dari kedua jenis buah mangrove dibandingkan untuk mengetahui bahan yang memiliki potensi lebih besar sebagai bahan baku edible film.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik kimia antara pati buah B. gymnorrhiza dan S. caseolaris. Berdasarkan hasil pengujian, kadar air tepung pati B. gymnorrhiza tercatat 8,53 persen, sedangkan S. caseolarissebesar 8,14 persen.
Sementara itu, kadar total pati menjadi salah satu hasil penting penelitian. Tepung buah B. gymnorrhiza memiliki kadar total pati rata-rata 32,27 persen, sedangkan S. caseolaris sebesar 21,43 persen. Hasil tersebut juga terlihat pada grafik perbandingan pada halaman 5 jurnal yang menunjukkan konsistensi nilai pada tiga kali ulangan. Perbedaan juga ditemukan pada kandungan amilosa dan amilopektin. B. gymnorrhiza memiliki kadar amilosa rata-rata 26,96 persen dan amilopektin 5,31 persen, sedangkan S. caseolaris memiliki kadar amilosa 18,45 persen dan amilopektin 2,98 persen.
Tingginya kandungan pati dan amilosa pada B. gymnorrhiza menjadi salah satu faktor yang mendukung potensinya sebagai bahan dasar edible film. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa kandungan amilosa sebesar 26,96 persen berpotensi menghasilkan film dengan karakteristik mekanik yang lebih baik karena amilosa memiliki kemampuan membentuk film yang lebih kuat dan fleksibel dibandingkan amilopektin.
Temuan ini membuka peluang pemanfaatan buah mangrove tidak hanya sebagai sumber pangan alternatif, tetapi juga sebagai bahan baku produk berbasis biomaterial yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan pati mangrove sebagai bahan edible film juga dapat menjadi bagian dari pengembangan inovasi untuk mendukung pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Dalam simpulannya, penelitian menyatakan bahwa karakteristik tepung buah mangrove ** Bruguiera gymnorrhizamemiliki potensi lebih tinggi sebagai bahan polisakarida untuk pembuatan edible film dibandingkan Sonneratia caseolaris**. Hal tersebut didasarkan pada kandungan total pati 32,27 persen, amilosa 26,96 persen, amilopektin 5,31 persen, serta kadar air 8,53 persen.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana potensi sumber daya pesisir Gorontalo Utara dapat dikembangkan melalui riset di bidang kelautan dan teknologi hasil perikanan. Pemanfaatan sumber daya mangrove menjadi material alternatif untuk kemasan pangan dapat menjadi salah satu peluang pengembangan inovasi berbasis sumber daya lokal dan mendukung pemanfaatan mangrove secara lebih bernilai.
Penulis: Frezky Arismunandar Pakaya, Rita Marsuci Harmain, dan Rahim HusainJurnal: Jambura Fish Processing Journal (JFPJ), Vol. 8 No. 2 (2026), hlm. 113–122Judul: Karakteristik Pati Buah Mangrove Bruguiera gymnorrhiza dan Sonneratia caseolaris Berpotensi sebagai Edible Film dari Kawasan Perairan Gorontalo UtaraSumber : Klik Disini..
Agenda Akreditasi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mempersiapkan, memastikan, dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan standar akreditasi yang berlaku. Kegiatan ini mencakup evaluasi dokumen, pemenuhan data dan eviden, penataan administrasi akademik, serta koordinasi seluruh sivitas akademika untuk mendukung proses asesmen akreditasi.
Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo turut berpartisipasi dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 yang berlangsung di Bali.
Kehadiran perwakilan dosen FKTP UNG menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan, jejaring akademik, serta pertukaran gagasan dalam mendukung transformasi dan pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.