
Gorontalo, 7 Oktober 2026 — Kajian mengenai keberadaan teripang pada habitat lamun di kawasan terumbu datar Teluk Tomini berhasil dipublikasikan dalam Journal of Fisheries and Environment, Volume 50 Nomor 2 Tahun 2026. Penelitian berjudul “Beyond Seagrass Density: Holothuroid Occurrence across Fine-scale Habitat Mosaics in Reef Flats of Tomini Bay, Indonesia” mengkaji pola kemunculan teripang dengan melihat kondisi habitat pada skala mikro. Penelitian ini dilakukan pada sistem lamun di kawasan terumbu datar Teluk Tomini, Provinsi Gorontalo. Kawasan tersebut memiliki habitat yang heterogen, dengan keberadaan padang lamun yang berdampingan dengan pasir, pecahan karang, kerikil, dan berbagai tipe substrat lainnya. Kondisi tersebut menjadi dasar untuk melihat apakah keberadaan teripang hanya berkaitan dengan kepadatan lamun atau juga dipengaruhi konteks mosaik habitat di sekitarnya.
Pengamatan dilakukan pada tiga stasiun, dengan tiga kuadrat berukuran 1 × 1 meter pada setiap stasiun. Setiap kuadrat kemudian dibagi menjadi 25 mikroplot berukuran 20 × 20 cm, sehingga menghasilkan 225 mikroplot dalam keseluruhan kerangka sampling. Pengamatan teripang dilakukan melalui sensus visual pada siang dan malam hari, sementara kondisi lamun, substrat, suhu, salinitas, dan pH turut dicatat sebagai bagian dari karakterisasi habitat. document document Hasil penelitian menunjukkan bahwa teripang ditemukan pada 37 mikroplot yang memiliki lamun dan teripang secara bersamaan, sementara 33 mikroplot hanya memiliki lamun. Sebanyak 155 mikroplot menunjukkan ketidakhadiran keduanya, dan tidak ditemukan mikroplot yang hanya ditempati teripang tanpa keberadaan lamun.
Menariknya, analisis menunjukkan tidak terdapat bukti perbedaan kepadatan tegakan lamun antara mikroplot yang hanya memiliki lamun dan mikroplot yang memiliki lamun sekaligus teripang. Nilai uji Mann–Whitney menghasilkan U = 664 dengan p = 0,533. Temuan ini menunjukkan bahwa kepadatan lamun saja belum cukup untuk menjelaskan pola keberadaan teripang pada lokasi penelitian. Pada tingkat stasiun, kepadatan dan kekayaan jenis lamun secara numerik tertinggi ditemukan di ST3, dengan kepadatan rata-rata 4.875,67 ± 2.553,98 tegakan/m² dan kekayaan 7,00 ± 1,00 jenis. Sementara itu, pengamatan teripang secara gabungan siang dan malam secara numerik paling tinggi ditemukan di ST1, yaitu 57,33 ± 34,00 pengamatan per kuadrat. Kekayaan jenis teripang secara numerik tertinggi ditemukan di ST3.
Temuan tersebut memperkuat interpretasi bahwa keberadaan teripang pada habitat lamun Teluk Tomini lebih tepat dipahami melalui konteks mosaik habitat berskala kecil, bukan hanya berdasarkan kepadatan lamun. Variasi substrat dan kondisi lingkungan menjadi bagian dari konteks habitat yang perlu diperhatikan dalam pengkajian ekologi teripang. Meski demikian, penelitian ini tidak menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat atau preferensi habitat tertentu.
Penelitian ini memberikan informasi dasar bagi penilaian habitat terumbu datar di Teluk Tomini. Hasilnya juga menunjukkan pentingnya memasukkan heterogenitas substrat dan konteks habitat berskala kecil dalam kegiatan pemantauan ekosistem lamun dan teripang, selain parameter kepadatan lamun. Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa teripang dalam lokasi penelitian hanya tercatat pada mikroplot yang memiliki lamun, tetapi kepadatan lamun tidak menunjukkan perbedaan yang berarti antara mikroplot dengan lamun saja dan mikroplot dengan keberadaan teripang. Karena itu, pendekatan berbasis mosaik habitat menjadi perspektif yang lebih sesuai untuk menggambarkan pola kemunculan teripang pada kawasan terumbu datar Teluk Tomini.
Agenda Akreditasi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mempersiapkan, memastikan, dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan standar akreditasi yang berlaku. Kegiatan ini mencakup evaluasi dokumen, pemenuhan data dan eviden, penataan administrasi akademik, serta koordinasi seluruh sivitas akademika untuk mendukung proses asesmen akreditasi.
Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo turut berpartisipasi dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 yang berlangsung di Bali.
Kehadiran perwakilan dosen FKTP UNG menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan, jejaring akademik, serta pertukaran gagasan dalam mendukung transformasi dan pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.