
Gorontalo, 24 September 2026 — Potensi lamun sebagai sumber bahan alami terus dikembangkan melalui penelitian di Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Jambura Fish Processing Journal Vol. 8 No. 2 Tahun 2026 mengkaji pemanfaatan ekstrak lamun Enhalus acoroides sebagai bahan aktif dalam formulasi masker gel peel-off antibakteri.
Penelitian berjudul “Aktivitas Antibakteri Masker Gel Peel-Off Berbahan Lamun Enhalus acoroides terhadap Staphylococcus aureus” ini ditulis oleh Suciyanti Adam, Rieny Sulistijowati, dan Fernandy M. Djailani, yang seluruhnya berasal dari Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, FKTP UNG.
Penelitian tersebut berangkat dari potensi Enhalus acoroides sebagai sumber senyawa bioaktif. Lamun diketahui mengandung sejumlah senyawa seperti flavonoid dan alkaloid yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri. Dalam penelitian ini, ekstrak lamun diformulasikan ke dalam masker gel peel-off dan diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus.
Lamun Teluk Tomini Dikembangkan Menjadi Produk Bernilai TambahSalah satu hal menarik dari penelitian ini adalah bahan lamun yang digunakan berasal dari perairan Teluk Tomini, Gorontalo. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70 persen, sebelum kemudian diformulasikan menjadi masker gel peel-off dengan beberapa tingkat konsentrasi ekstrak.
Peneliti menggunakan empat formulasi ekstrak, yaitu 0 mL, 10 mL, 15 mL, dan 20 mL, dengan masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan. Aktivitas antibakteri kemudian diuji menggunakan metode difusi cakram.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas antibakteri seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak lamun. Formulasi tanpa ekstrak menghasilkan zona hambat sebesar 8,15 mm, konsentrasi 10 mL sebesar 9,19 mm, konsentrasi 15 mL sebesar 10,19 mm, dan konsentrasi 20 mL mencapai 11,80 mm. Berdasarkan kategori yang digunakan dalam penelitian, formulasi 15 mL dan 20 mL termasuk kategori aktivitas antibakteri kuat.
Analisis statistik menggunakan ANOVA juga menunjukkan bahwa variasi konsentrasi ekstrak memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap kemampuan masker dalam menghambat pertumbuhan S. aureus. Uji lanjut menunjukkan konsentrasi 15 mL dan 20 mL berbeda nyata dibandingkan kontrol.
Formulasi Juga Diuji dari Sisi Homogenitas dan pHSelain aktivitas antibakteri, penelitian turut mengevaluasi karakteristik fisik masker. Hasil uji homogenitas menunjukkan seluruh formulasi, mulai dari A0 hingga A3, memiliki tekstur homogen dan tidak menunjukkan adanya partikel atau butiran kasar.
Pengujian pH menunjukkan bahwa formulasi dengan ekstrak memiliki nilai pH sekitar 6,11–6,99, sedangkan formulasi tanpa ekstrak memiliki nilai pH yang jauh lebih tinggi. Penelitian menyebut formulasi A1, A2, dan A3 memiliki nilai yang mendekati kondisi pH kulit sehingga dinilai lebih sesuai dibandingkan formulasi tanpa ekstrak.
Pada bagian pembahasan, penelitian juga mengaitkan aktivitas antibakteri dengan keberadaan senyawa bioaktif seperti flavonoid dan alkaloid. Senyawa tersebut diduga berperan dalam mengganggu berbagai proses pada sel bakteri, sehingga menghambat pertumbuhannya.
Potensi Hilirisasi Produk Berbasis Sumber Daya LautHasil penelitian menyimpulkan bahwa formulasi dengan ekstrak lamun 15 mL dan 20 mL menunjukkan aktivitas antibakteri kategori kuat, dengan zona hambat masing-masing 10,19 mm dan 11,80 mm. Penelitian menyatakan masker gel peel-off berbahan ekstrak Enhalus acoroides berpotensi dikembangkan sebagai produk kosmetik antibakteri alami.
Temuan tersebut menunjukkan salah satu peluang pemanfaatan sumber daya hayati laut tidak hanya sebagai bagian dari ekosistem pesisir, tetapi juga sebagai bahan baku produk bernilai tambah. Pemanfaatan lamun untuk penelitian dan pengembangan produk juga membuka ruang bagi pengembangan inovasi berbasis sumber daya lokal, dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan ekosistem.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan kontribusi sivitas akademika FKTP UNG dalam mengembangkan inovasi hasil perairan dan sumber daya laut Teluk Tomini melalui pendekatan penelitian yang menghubungkan potensi bahan alam dengan pengembangan produk.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG dalam waktu dekat akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 05 - 07 September 2016.
Pengabdian Pada Masyarakat Oleh Civitas FPIK UNG akan dilaksanakan di Kabupaten Buol-Sulawesi Tengah. Pengabdian ini sebagai bentuk upaya penjajakan kerja sama dengan antara FPIK UNG dengan Pemerintah Kabupaten Buol Sulawesi Tengah