
Gorontalo, 29 September 2026 – Ekosistem mangrove di pesisir Teluk Tomini, Kabupaten Boalemo, memiliki komposisi jenis dan tingkat regenerasi yang beragam. Hal tersebut terungkap dalam penelitian Fauzia Zees, Rieny Sulistijowati S., dan Lukman Mile dari Program Studi Ilmu Kelautan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian berjudul “Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo” bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis struktur komunitas mangrove pada kategori semai dan pancang di kawasan pesisir Teluk Tomini. Penelitian ini diterbitkan dalam Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, Vol. 9 No. 4 November 2025, dengan DOI 10.46252/jsai-fpik-unipa.2025.Vol.9.No.4.550.
Pengamatan dilakukan menggunakan metode transek garis pada empat stasiun yang mewakili tiga kecamatan pesisir, yakni Desa Bajo di Kecamatan Tilamuta, Desa Dulangeya di Kecamatan Botumoito, serta Desa Tabulo Selatan dan Desa Mananggu di Kecamatan Mananggu. Hasil penelitian mencatat sejumlah jenis mangrove, antara lain Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, dan Xylocarpus moluccensis. Di antara jenis yang ditemukan, genus Rhizophora relatif sering dijumpai pada sejumlah stasiun. Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa masing-masing ditemukan pada tiga stasiun penelitian. Pola tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi kedua jenis terhadap kondisi lingkungan pesisir dengan substrat berlumpur hingga berpasir dan salinitas yang bervariasi.
Temuan yang cukup menonjol terlihat di Stasiun 2, Desa Dulangeya, dengan Ceriops tagal menjadi jenis yang dominan pada kategori semai. Jenis tersebut memiliki kerapatan mutlak 56 individu/m², frekuensi mutlak 0,48, dan dominansi relatif mencapai 87,5 persen. Sebaliknya, Bruguiera gymnorrhiza di lokasi yang sama memiliki kerapatan mutlak hanya 1 individu/m², frekuensi mutlak 0,05, dan dominansi relatif 1,56 persen. Pada kategori pancang, Ceriops tagal di Stasiun 2 juga menunjukkan nilai kerapatan tertinggi, yakni 8,36 individu/m². Nilai dominansi relatifnya mencapai 73,85 persen. Sementara itu, kerapatan terendah tercatat pada Rhizophora apiculata, yaitu 0,04 individu/m².
Penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan jumlah jenis semai antarstasiun. Stasiun 4 di Desa Mananggumemiliki jumlah jenis semai paling banyak, yakni enam jenis: Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Ceriops tagal, Ceriops decandra, Bruguiera parviflora, dan Sonneratia alba. Secara keseluruhan, kerapatan semai tertinggi terdapat di Stasiun 4 dengan 98 individu, sedangkan terendah berada di Stasiun 1 dengan 23 individu. Peneliti mengaitkan perbedaan tersebut dengan variasi substrat, stabilitas hidrologi, serta aktivitas manusia di masing-masing lokasi.
Pengukuran parameter lingkungan menunjukkan suhu perairan pada empat stasiun berkisar 26,73–30,19°C, pH 7,33–7,99, dan salinitas 7,33–30,64 ppt. Substrat pada lokasi penelitian secara umum berupa lumpur dan pasir. Hasil penelitian menyebutkan bahwa kisaran suhu tersebut masih mendukung pertumbuhan mangrove, sementara nilai pH berada dalam kisaran yang dinilai normal untuk mendukung kestabilan ekosistem mangrove. Perbedaan salinitas antarstasiun diduga berkaitan dengan masuknya pasokan air tawar di beberapa lokasi. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai komposisi, kerapatan, frekuensi, dominansi, serta kondisi lingkungan mangrove di pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo. Informasi tersebut dapat menjadi data dasar untuk memahami proses regenerasi dan dinamika komunitas mangrove di kawasan pesisir tersebut. Penelitian ini dipublikasikan pada Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik Volume 9 Nomor 4 Tahun 2025 dan tercatat dalam Garuda dengan tiga penulis dari Universitas Negeri Gorontalo.
Sumber: Zees, F., Sulistijowati, R., & Mile, L. (2025). Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 9(4), 1–13.
Agenda Akreditasi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mempersiapkan, memastikan, dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan standar akreditasi yang berlaku. Kegiatan ini mencakup evaluasi dokumen, pemenuhan data dan eviden, penataan administrasi akademik, serta koordinasi seluruh sivitas akademika untuk mendukung proses asesmen akreditasi.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan akan melaksanakan Banding terkait dengan hasil Akreditasi dari BAN-PT.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 16- 18 September 2016.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNG dalam waktu dekat akan melakukan Akreditasi Program Studi. Adapun Program Studi yang akan di Akreditasi yakni Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Pelaksanaan Akreditasi pada tanggal 05 - 07 September 2016.